Di Sebuah Teras Warung Kecil

thatslight.wordpress.com

thatslight.wordpress.com

Aku masih berdiri di tempat yang sama. Di sebuah teras warung kecil.

Aku pikir, tempat ini cocok untuk berlindung dari hujan. Dengan atap yang memanjang ke arah jalan dan lantai yang cukup tinggi dari tanah akan membuat hujan sulit untuk masuk dan membasahiku.

Aku salah. Ternyata apa yang aku pikirkan, tiba-tiba saja berubah. Angin yang kuat datang mendorong hujan ke arahku, membawa butir-butir air yang sangat banyak, bergerak dengan cepat.

Baca lebih lanjut

Iklan

Racun

farm5.staticflickr.com

farm5.staticflickr.com

Setelah memaki-maki dan meludah beberapa kali, aku turun. Aku tak perlu melihat ke belakang lagi apa yang sedang terjadi. Sedari tadi aku sudah merasakan kehadiran Jerry. Tak peduli apa yang ada dipikiran dia.

Bahkan ketika aku sudah berada di lantai dua, bau kotoran kucing itu masih saja tercium. Sungguh menyebalkan. Banyak orang yang tinggal di gedung bertingkat ini, dan semuanya penyuka binatang. Anjing, burung, kelinci dan kucing. Yang terakhir, yang kotorannya paling menusuk di hidung.

Baca lebih lanjut

Iblis

4.bp.blogspot.com

4.bp.blogspot.com

Dahulu tak seperti ini. Dahulu lebih baik. Saat pertama kali aku datang ke tempat ini, orang-orang begitu ramahnya menyambut.

Waktu itu, aku adalah dokter yang ditugaskan oleh Pemerintah. Demi mengejar status sebagai dokter yang diakui Negara, aku memilih jalan ini. Sebuah desa kecil, ramai, tapi sulit akses telepon dan kendaraan.

Dengan berjalan kaki berkilo-kilo. Medan berbatu, kadang berlumpur saat hujan. Tanjakan, beberapa memakan waktu setengah jam. Tak kalah dengan itu, turunan sering berbahaya karena harus melintas di pinggir jurang dengan akar pohon sebagai genggaman, dan jalan kecil untuk pijakan.

Sudah banyak orang yang jadi korban, mati karena jalan itu. Dan selama tugasku, aku telah kehilangan seorang yang sangat aku cintai.

Baca lebih lanjut

Siapa nama kamu?

farm6.staticflickr.com

farm6.staticflickr.com Edited.

“aduh,..ampun,..ampun, Pa!” Rido terus dihantam dengan rotan. Dari betis ke pantat dan naik ke punggung. Garis-garis merah pasti sudah terhias tak beraturan di badannya.

“sudah…sudah, Pa. Anakmu kesakitan. Dia sudah kapok.” Teriak Ibu Rima.

“awas kalau pulang malam lagi.” Pak Doni menaruh rotan di atas bangku panjang dekat meja makan. Dia melangkah ke kamar.

Rido masih duduk di lantai, mengusap air mata, menahan sakit. Arah pandangnya mengikuti langkah Pak Doni saat menuju pintu keluar rumah. Sudah kesekian kalinya Rido pulang jam tujuh malam. Senang nonton atraksi tarian silat di lapangan utama kampung setiap sore, lupa pulang, lupa makan. Sialnya Rido sore itu, Pak Doni sudah pulang lebih dulu, mabuk.

Baca lebih lanjut